x
Tanpa kita sadari, kita telah memulai titik kehidupan ini. bermula dari sebuah noktah darah yang tersemai di rahim ibunda. Titik atau noktah itu kemudian berkembang menjadi banyak titik, sampai terbentuklah semua organ tubuh manusia dengan sempurna sebagaimana yang Rabbnya firmankan. Setelah itu dengan izin Rabbul 'Alamiin pula makhluk yang telah melewati proses penciptaan yang panjang, akhirnya keluar dari perut sang bunda dengan perjuangan sang bunda yang susah payah dan berpeluh-peluh. Itulah bayi mungil yang bersih suci tanpa titik-titik dosa atau pun noda.
Bingung dengan titik-titik? Well let's play!
Pasti percaya kan dengan suratan taqdir? Pastilah.. karena seorang muslim dan mukmin imannya tidak akan sempurna jika titik kehidupannya tidak diisi dengan ruh keimanan kepada apa yang digariskan oleh Allah SWT dalam Lauhul Mahfidz-Nya.
Lagi-lagi titik. Ya, memang kehidupan kita dipenuhi dengan titik-titik yang perlu kita isi degan benar. Titik-titik tersebut merupakan ujian. Seperti saat kita menjalani ujian ketika kita hendak naik kelas. Seseorang tidak akan bisa lulus ujian kecuali dengan mengisi titik-titik tersebut dengan benar. Dan kebenaran itu tidak mungkin bisa kita dapatkan dengan instan. Belajar, itulah hal yang diperlukan seseorang sebelum menjalankan ujian. Yaitu mencari ilmu sebagai bekal dalam menjalani kehidupan ini. Maka, tak ada petunjuk hidup yang lebih baik, yang di dalamnya terdapat banyak sekali pengetahuan sebagai tanda Keangungan Sang Maha Pencipta.
Jika titik-titik yang dimaksud di atas adalah kita diminta untuk mengisi dengan baik dan benar, namun di antara yang berhasil, pasti ada yang gagal dalam menjalaninya. Mereka yang gagal mayoritas mengisi titik-titik kehidupannya dengan hal-hal yang buruk. Sekilas hidup mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan keindahan. Tapi seseungguhnya hati mereka penuh degan titik-titik hitam. Jika titik-titik hitam itu sudah terlampau banyak, maka hatinya pun sudah tidak dapat lagi disebut dengan hati. Seperti sabda Rosul-Nya:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”
Dari Hadits di atas, maka Taubat merupakan obat yang paling mujarab untuk membersihkan titik-titik hitam tersebut.
Semoga dalam hidup ini kita diijauhkan dari perbuatan yang dapat membuat hitam hati kita sehingga akhirat kita pun menjauh dari kita.





0 komentar:
Posting Komentar