
Inilah kisah yang dapat menyentuh hati bagi siapa saja yang merenunginya. Dapat juga mengalirkan buliran bening dari sudut mata. Membasahi tanah planet ini yang oleh Sang Pencipta diwariskan kepada sang Khalifah, yaitu manusia. Namun, betapa sombongnya makhluk yang diberi gelar sebagai Ahsani Taqwiim. Mereka banyak mengingkari segala kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Maka tak heran banyak malapetaka yang akhirnya mereka hadapi dikarenakan perbuatan mereka.
Di suatu hari Rosulullah SAW sedang khusyuk melakukan thawaf di Ka'bah. DI tengah kekhusyukannya beliau mendengar seseorang di dekatnya berthawaf sambil berdzikir: "Ya Kariim! Ya Kariim!". Rosulullah SAW pun menirukannya dan membaca "Ya Kariim! Ya Kariim!". Kemudian tak berapa lama orang itu pun berhenti di salah satu sudut Ka'bah dan berdzikir lagi: "Ya Kariim! Ya Kariim!". Rosulullah SAW yang berada di belakangnya pun mengikuti kembali dzikir orang tersebut, "Ya Kariim! Ya Kariim!". Merasa seperti diolok-olok, orang itu pun menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki yang gagah dan tampan yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Oran itu lalu berkata: "Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja mengolok-olokku, karena aku seorang Arab Badui? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan kulaporkan kepada kekasihk, Muhammad Rosulullah."
Mendengar perkataan orang badui itu, Rosulullah SAW tersenyum, lalu bertanya: "Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang arab?" "Belum." Jawabnya. "Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?" Tanya Rosulullah SAW lagi.
"Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya. dan membenarkannya sebagai utusan Allah sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya." Kata Orang Arab Badui itu dengan yakin.
Rosulullah SAW pun berkata kepadanya: "Wahai Orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!" Mendengar ucapan Rosulullah SAW itu , dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.
"Tuan ini Nabi Muhammad?!" Tanyanya. "Ya." Jawab Nabi SAW. Segera orang arab badui itu tersungkur tunduk untuk mencium kaki Rosulullah SAW. Melihat hal itu, beliau pun langsung menarik tubuh orang arab badui itu, seraya berkata kepadanya:
"Wahai orang Arab! Janganlah kau bertindak seperti itu! perbuatan seperti itu biasanya hanya dilakuka oleh seorang hamba sahaya kepad tuannya. Ketahuilah! Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta untuk dihormati atau diagungkan, akan tetapi aku diutus untuk membawa berita."
Oleh karena itu, malaikat Jibril a.s pun turun membawa berita dari langit. Ia berkata: "Ya Muhammad, Rabb As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan berfirman: 'Katakanlah kepada orang Arab itu, agar ia tidak terpesona dengan kenikmatan yang Allah berikan. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari kiamat kelak, dan akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar'." Setelah menyamaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka oran Arab itu pun berkata:
"Demi keagungan serta kemulian Allah, jika Engkau akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan terhadap Enkau!" Kata Orang Arab Badui itu. Lalu Rosulullah SAW bertanya kepadanya: "Apakah yang akan kau perhitungkan tehadap Allah?". Ia menjawab: "Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa besar ampunannya. Dan jika Dia menghitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luas ampunannya itu. Dan jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa besar kedermawanannya.!"
Mendengar ucapan orang Arab Badui itu, maka Rosulullah SAW menangis dikarenakan betapa benarnya perkataan orang Arab Badui itu. Air mata beliau pun mengalir membasahi janggutnya. Lantaran hal itu malaikat Jibril pun turun kembali dan berkata:
"Ya Muhammad! Rabb As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: 'Berhentilah menangis! Sesungguhnya karena tangismu, para malaikat penjaga 'Arsy lupa akan bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga 'Arsy-Nya pun bergoncang. Katakanlah kepada temanmu itu bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di Surga kelak!'." Mendengar berita itu, Orang Arab Badui itu sangat bahagia, lalu menagis karena tak kuasa menahan keharuan dirinya.




0 komentar:
Posting Komentar