Pages

Subscribe:

Flickr Images

Rabu, 20 September 2017

Someone Asked Me About Marriage

“Va, seandainya ada ikhwan yang datang nglamar kamu, dia ikhwan biasa bukan ikhwan berlatar pendidikan agama yang kuat. Tapi dia punya andil besar dalam menggerakkan umat Islam. Apa kamu mau nerima dia.?” Katanya. Ku pikir masalah pertanyaan ini ada kaitannya dengan masalah yang dihadapinya. Bisa jadi hal itu menimpanya, bisa jadi juga tidak.
Aku mencoba menjawab dengan pikiran dewasa saja. “Menerima lamaran itu bukankayak nerima rejeki nomplok. Ibarat aku ini bos yang mau nerima karyawan, aku harus selektif dan tentunya ada sesi interview. Habis itu juga nggak langsung diterima aja kan pekerja itu? Masih ada seleksi lewat rapat direksi. Jadi kalua masalahnya kayak gitu aku harus minta pertimbangan ke orang tuaku, kakak-kakakku, dan orang-orang yang lebih mengerti masalah ini dan lebih mengerti keadaanku. Tapi juga harus dibarengi dengan istikhoroh dulu”
Jawabanku yang sudah panjang kali lebar itu masih juga ditanggapinya dengan dalam. Seperti banyak orang bilang kalua cwek itu bapernya nggak ketulungan. Semua dipikirnya pake’ perasaan (kecuali aku, hehe).
“Terus kalau mereka bilang ‘nggak’, kamu juga akan ngambil keputusan itu, walaupun kamu sebenarnya juga suka sama laki-laki itu.?”
Rasa suka? Apa rasa suka itu tanda serratus persen kalau dia jodoh kita? Kayaknya nggak deh. “Eh aku bilangin ya nggak samua rasa suka itu nunjukkin kalau orang yang dating ke kita itu adalah jodoh kita. Ada orang yang awal nikahnya nggak suka, tapi Allah bilang kalau itu sebenarnya jodohnya.” Jawaban dari jodoh itu adalah kemantapan hati setelah kita berusaha mengistikhorohi semuanya walaupun sebenarnya kita nggak suka.
Tapi emang dasar cewek, perasaannya selalu lebih maju disbanding otaknya. Kadang aku menyangsikan hal ini dari diriku walaupun sebenarnya aku juga cewek. Sesulit apa sih hidup ini , sampai-sampai akal sehat udah nggak bisa kepakai lagi.
Katanya, “kamu tetap mau nolak dia, dan tega nyakitin perasaannya? Padahal dia adalah orang yang selama ini memperjuangkanmu.”
Maka ku katakan kepadanya, “Kalau emang harus gitu, ya aku bakal nglakuin itu.” Ada suatu pertanyaan dalam benakku. Apakah seorang laki-laki dewasa masih akan bersikap kekanak-kanakan padahal dia sudah memilih jalan hidupnya untuk ingin segera melangsungkan pernikahan? Aku pikir hal itu tak menyakitinya selama dia mau berpikir bahwa aku mungkin belum jodohnya. Aku tidak mengerti bagaimana cara lak-laki mengatasi masalahnya yang menuntut dirinya untuk bersikap dewasa. Karena laki-laki cenderung lebih mengedepankan otaknya dan tak banyak bicara seperti kebanyakan wanita.

Jadi intinya, aku ingin mengatakan kepada seluruh wanita. Bolehlah kita menjadi makhluk yang peka perasaannya. Tapi muslimah itu dituntut untuk tangguh. Tangguh bukan berarti tak boleh menangis, karena menangis adalah hal yang manusiawi. Usaplah tangis itu sesaat setelah semuanya selesai. Yakinlah masalah itu pasti ada solusinya. Karena tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan, kecuali kalau kita mengkerdilakan pikiran dan hati kita sebelum mencoba untuk menhadapinya.

0 komentar:

Posting Komentar