Pages

Subscribe:

Flickr Images

Rabu, 02 Agustus 2017

Jangan Menangis Karena Tumpahan Susu

Beberapa orang percaya bahwa sifat atau perilaku yang mereka telah diarahkan menuju hal tersebut, yang mana juga mereka mendapat pengakuan dari sifat itu, serta mampu meninggalkan kesan atau pengaruh tertentu tentang diri mereka pada pikiran orang lain tidak dapat dirubah. Mereka menyerah pada pikiran ini, hanya menjadi seseorang yang menyerah pada kenyataan yang tidak dapat dirubahnya, tingginya atau pun warna kulitnya.
Di sisi lain, seseorang yang cerdas berpikir bahwa untuk mengubah sifat asli seseorang mungkin lebih mudah dari pada mengganti pakaiannya. Sifat asli kita tidaklah seperti tumpahan susu yang tidak dapat dipungut atau diserok kembali. Agaknya, kita selalu dalam pengawasan akan hal itu dan ada banyak cara yang bisa kita tempuh untuk menuju hal tersebut, dan bahkan cara yang kita pikirkan!
Ibnu Hazm menyebutkan pada bukunya Tawq al-Hamamah sebuah kisah seorang pedagang terkenal dari negeri Andalusia. Ada sebuah kompetisi antara dia dan empat pedagang lainnya. Akibat dari pertarungan tersebut, mereka tidak menyukai Sang Pedagang Andalusia. Mereka berepat akhirnya memutuskan untuk membuatnya semakin buruk.
Di suatu pagi, dia meninggalkan rumahnya dan pergi ke tempat kerjanya, dia memakai baju putih dan juga sorban. Di jalan, ia berpapasan dengan salah satu dari keempat pedagang yang membencinya. Ia pun menyalami pedagang Andalusia tersebut, kemudian memperhatikan sorbannya dan berkata, “Bagus sekali sorban kuning ini!”
Pedagang Andalusia pun berkata, “Apa kamu buta? Sorban ini warnanya putih!”
Dia menjawab, “Bukan, itu kuning, itu kuning, tapi itu kelihatan bagus.”
Pedagang Andalusia pun meninggalkannya dan melanjutkan perjalanannya sampai dia bertemu dengan pedagang kedua dan mereka. Dia memberi salam kepadanya, kemudian memandang sorbannya dan berkata, “Kamu kelihatan ganteng hari ini! Bajumu bagus sekali! Apalagi sorban hijau ini!”
Pedagang Andalusia itu pun berkata, “Sebenarnya, surban ini putih.”
“tidak, itu warna hijau,” dia menyangkal.
Dia menjawab, “Ini putih! Pergi sana!”
Pedagang Andalusia itu pun berjalan lagi sembari berbicara dengan dirinya sendiri, dan sejak sekarang hingga selanjutnya, ia tidak berhenti melihat warna sorbannya untuk memastikan bahwa warnanya betul-betul putih. Dia pun akhirnya sampai di tokonya dan kemudian membuka kuncinya. Sementara itu, seseorang yang datang kepadanya yang ternyata adalah yang ketiga dari empat orang pedagang tadi. Ia berkata, “Betapa cantiknya pagi ini! Terutama bajumu, terlihat bagus! Juga sorban birumu yang bagus itu menambah ketampananmu!”
Si pedagang Andalusia pun melihat kembali sorbannya untuk memastikan warnanya, lalu dia mengucek matanya dan berkata, “Wahai saudaraku! Sorbanku itu warna putih!”
“Bukan, ini warna biru. Tapi yang terpenting adalah ia nampak bagus, jadi jangan khawatir!” pedagang itu menjawab, lantas kemudian pergi meninggalkannya tepat setelah Si Pedagang Andalusia itu berteriak, “SORBAN INI WARNANYA PUTIH!” sembari dia melihat sorbanya lagi untuk memastikan warnanya.
Dia duduk di dalam tokonya selama beberapa waktu dan pandangannya tak dapat lepas dari sorbannya. Sementara itu, orang yang keempat datang dan berkata, “Assalamua’alaikum! MashaAllah! Dari mana kamu membeli soban merah ini?”
Si Pedagang Andalusia itu pun berteriak, “SORBANKU WARNA BIRU!”
Dia menjawab, “Bukan! Ini merah.”
Si Pedagang Andalusia berkata lagi, “Bukan! Ini hijau! Sebenarnya, bukan! Ini putih! Bukan! Ini biru, atau hitam!” ia pun kemudian tertawa keras, lalu berteriak, dan kemudian mulai menangis dan melompat-lompat.
Ibnu Hazm berkata, ‘Setelah itu, aku akan melihatnya di jalanan kota Andalusia. Dia berubah jadi gila dan anak-anak melemparinya dengan batu.’
Jika keempat orang tadi, dengan menggunakan kemampuan mereka mampu mengubah tak hanya sifat alami seseorang tapi juga pikirannya, lalu bagaimana dengan kemampuan yang telah di uji coba yang didukung oleh wahyu yang mana seseorang dapat mengamalkannya agar lebih dekat kepada Allah?
Amalkanlah apa pun kemampuan baik yang kamu jumpai dan kamu akan bahagia. (karena bahagia itu sederhana).
Jika kamu katakana padaku, “Aku tak mampu.”
Aku akan mengatakan padamu, “Setidaknya cobalah!”
Jika kamu katakan padaku, “Aku tidak tahu bagaimana?”
Aku akan katakan, “Ya, kamu tahu.”
Nabi SAW bersabda, “Pengetahuan hanya didapat melalui belajar, dan ampunan hanya bisa didapat melalui istighfar.”
Fokus utama pembahasan…
Pahlawan adalah seseorang yang pergi melampaui bakatnya untuk meningkatkan kemampuannya, sampai dia mampu untuk berubah jadi lebih baik, dan bahkan mungkin sampai mengubah kemampuan orang-orang.

Taken from: Enjoy Your Life – Dr. Muhammad ‘Adb Ar-Rahman Al-‘Arifi

0 komentar:

Posting Komentar