Beberapa orang percaya bahwa sifat atau perilaku yang mereka
telah diarahkan menuju hal tersebut, yang mana juga mereka mendapat pengakuan
dari sifat itu, serta mampu meninggalkan kesan atau pengaruh tertentu tentang
diri mereka pada pikiran orang lain tidak dapat dirubah. Mereka menyerah pada
pikiran ini, hanya menjadi seseorang yang menyerah pada kenyataan yang tidak
dapat dirubahnya, tingginya atau pun warna kulitnya.
Di sisi lain, seseorang yang cerdas berpikir bahwa untuk
mengubah sifat asli seseorang mungkin lebih mudah dari pada mengganti
pakaiannya. Sifat asli kita tidaklah seperti tumpahan susu yang tidak dapat
dipungut atau diserok kembali. Agaknya, kita selalu dalam pengawasan akan hal
itu dan ada banyak cara yang bisa kita tempuh untuk menuju hal tersebut, dan
bahkan cara yang kita pikirkan!
Ibnu Hazm menyebutkan pada bukunya Tawq al-Hamamah sebuah
kisah seorang pedagang terkenal dari negeri Andalusia. Ada sebuah kompetisi
antara dia dan empat pedagang lainnya. Akibat dari pertarungan tersebut, mereka
tidak menyukai Sang Pedagang Andalusia. Mereka berepat akhirnya memutuskan
untuk membuatnya semakin buruk.
Di suatu pagi, dia meninggalkan rumahnya dan pergi ke tempat
kerjanya, dia memakai baju putih dan juga sorban. Di jalan, ia berpapasan dengan
salah satu dari keempat pedagang yang membencinya. Ia pun menyalami pedagang
Andalusia tersebut, kemudian memperhatikan sorbannya dan berkata, “Bagus sekali
sorban kuning ini!”
Pedagang Andalusia pun berkata, “Apa kamu buta? Sorban ini
warnanya putih!”
Dia menjawab, “Bukan, itu kuning, itu kuning, tapi itu
kelihatan bagus.”
Pedagang Andalusia pun meninggalkannya dan melanjutkan
perjalanannya sampai dia bertemu dengan pedagang kedua dan mereka. Dia memberi
salam kepadanya, kemudian memandang sorbannya dan berkata, “Kamu kelihatan
ganteng hari ini! Bajumu bagus sekali! Apalagi sorban hijau ini!”
Pedagang Andalusia itu pun berkata, “Sebenarnya, surban ini
putih.”
“tidak, itu warna hijau,” dia menyangkal.
Dia menjawab, “Ini putih! Pergi sana!”
Pedagang Andalusia itu pun berjalan lagi sembari berbicara
dengan dirinya sendiri, dan sejak sekarang hingga selanjutnya, ia tidak
berhenti melihat warna sorbannya untuk memastikan bahwa warnanya betul-betul
putih. Dia pun akhirnya sampai di tokonya dan kemudian membuka kuncinya.
Sementara itu, seseorang yang datang kepadanya yang ternyata adalah yang ketiga
dari empat orang pedagang tadi. Ia berkata, “Betapa cantiknya pagi ini!
Terutama bajumu, terlihat bagus! Juga sorban birumu yang bagus itu menambah
ketampananmu!”
Si pedagang Andalusia pun melihat kembali sorbannya untuk
memastikan warnanya, lalu dia mengucek matanya dan berkata, “Wahai saudaraku!
Sorbanku itu warna putih!”
“Bukan, ini warna biru. Tapi yang terpenting adalah ia
nampak bagus, jadi jangan khawatir!” pedagang itu menjawab, lantas kemudian
pergi meninggalkannya tepat setelah Si Pedagang Andalusia itu berteriak,
“SORBAN INI WARNANYA PUTIH!” sembari dia melihat sorbanya lagi untuk memastikan
warnanya.
Dia duduk di dalam tokonya selama beberapa waktu dan
pandangannya tak dapat lepas dari sorbannya. Sementara itu, orang yang keempat
datang dan berkata, “Assalamua’alaikum! MashaAllah! Dari mana kamu membeli
soban merah ini?”
Si Pedagang Andalusia itu pun berteriak, “SORBANKU WARNA
BIRU!”
Dia menjawab, “Bukan! Ini merah.”
Si Pedagang Andalusia berkata lagi, “Bukan! Ini hijau!
Sebenarnya, bukan! Ini putih! Bukan! Ini biru, atau hitam!” ia pun kemudian
tertawa keras, lalu berteriak, dan kemudian mulai menangis dan melompat-lompat.
Ibnu Hazm berkata, ‘Setelah itu, aku akan melihatnya di
jalanan kota Andalusia. Dia berubah jadi gila dan anak-anak melemparinya dengan
batu.’
Jika keempat orang tadi, dengan menggunakan kemampuan mereka
mampu mengubah tak hanya sifat alami seseorang tapi juga pikirannya, lalu
bagaimana dengan kemampuan yang telah di uji coba yang didukung oleh wahyu yang
mana seseorang dapat mengamalkannya agar lebih dekat kepada Allah?
Amalkanlah apa pun kemampuan baik yang kamu jumpai dan kamu
akan bahagia. (karena bahagia itu sederhana).
Jika kamu katakana padaku, “Aku tak mampu.”
Aku akan mengatakan padamu, “Setidaknya cobalah!”
Jika kamu katakan padaku, “Aku tidak tahu bagaimana?”
Aku akan katakan, “Ya, kamu tahu.”
Nabi SAW bersabda, “Pengetahuan hanya didapat melalui
belajar, dan ampunan hanya bisa didapat melalui istighfar.”
Fokus utama pembahasan…
Pahlawan adalah seseorang yang pergi melampaui bakatnya untuk meningkatkan kemampuannya, sampai dia mampu untuk berubah jadi lebih baik, dan bahkan mungkin sampai mengubah kemampuan orang-orang.
Taken from: Enjoy Your Life – Dr. Muhammad ‘Adb
Ar-Rahman Al-‘Arifi





0 komentar:
Posting Komentar