“Va, seandainya ada ikhwan yang datang nglamar kamu,
dia ikhwan biasa bukan ikhwan berlatar pendidikan agama yang kuat. Tapi dia punya andil besar dalam menggerakkan
umat Islam. Apa kamu mau nerima dia.?” Katanya. Ku pikir masalah pertanyaan ini
ada kaitannya dengan masalah yang dihadapinya. Bisa jadi hal
itu menimpanya, bisa jadi juga tidak.
Aku mencoba menjawab dengan pikiran dewasa saja.
“Menerima lamaran itu bukankayak nerima rejeki nomplok. Ibarat aku ini bos yang
mau nerima karyawan, aku harus selektif dan tentunya ada sesi interview. Habis
itu juga nggak langsung diterima aja kan pekerja itu? Masih ada seleksi lewat
rapat direksi. Jadi kalua masalahnya kayak gitu aku harus minta pertimbangan ke
orang tuaku, kakak-kakakku, dan orang-orang yang lebih mengerti masalah ini dan
lebih mengerti keadaanku. Tapi juga harus dibarengi dengan istikhoroh dulu”
Jawabanku yang sudah panjang kali lebar itu masih juga
ditanggapinya dengan dalam. Seperti banyak orang bilang kalua cwek itu bapernya
nggak ketulungan. Semua dipikirnya pake’ perasaan (kecuali aku, hehe).
“Terus kalau mereka bilang ‘nggak’, kamu juga akan
ngambil keputusan itu, walaupun kamu sebenarnya juga suka sama laki-laki itu.?”
Rasa suka? Apa rasa suka itu tanda serratus persen
kalau dia jodoh kita? Kayaknya nggak deh. “Eh…
aku bilangin ya… nggak samua rasa suka
itu nunjukkin kalau orang yang dating ke kita itu adalah jodoh kita. Ada orang
yang awal nikahnya nggak suka, tapi Allah bilang kalau itu sebenarnya
jodohnya.” Jawaban dari jodoh itu adalah kemantapan hati setelah kita berusaha
mengistikhorohi semuanya walaupun sebenarnya kita nggak suka.
Tapi emang dasar cewek, perasaannya selalu lebih maju
disbanding otaknya. Kadang aku menyangsikan hal ini dari diriku walaupun
sebenarnya aku juga cewek. Sesulit apa sih hidup ini , sampai-sampai akal sehat
udah nggak bisa kepakai lagi.
Katanya, “kamu tetap mau nolak dia, dan tega nyakitin
perasaannya? Padahal dia adalah orang yang selama ini memperjuangkanmu.”
Maka ku katakan kepadanya, “Kalau emang harus gitu, ya
aku bakal nglakuin itu.” Ada suatu pertanyaan dalam benakku. Apakah seorang
laki-laki dewasa masih akan bersikap kekanak-kanakan padahal dia sudah memilih
jalan hidupnya untuk ingin segera melangsungkan pernikahan? Aku pikir hal itu
tak menyakitinya selama dia mau berpikir bahwa aku mungkin belum jodohnya. Aku
tidak mengerti bagaimana cara lak-laki mengatasi masalahnya yang menuntut
dirinya untuk bersikap dewasa. Karena laki-laki cenderung lebih mengedepankan
otaknya dan tak banyak bicara seperti kebanyakan wanita.
Jadi intinya, aku ingin mengatakan kepada seluruh
wanita. Bolehlah kita menjadi makhluk yang peka perasaannya. Tapi muslimah itu
dituntut untuk tangguh. Tangguh bukan berarti tak boleh menangis, karena
menangis adalah hal yang manusiawi. Usaplah tangis itu sesaat setelah semuanya
selesai. Yakinlah masalah itu pasti ada solusinya. Karena tidak ada masalah
yang tidak dapat dipecahkan, kecuali kalau kita mengkerdilakan pikiran dan hati
kita sebelum mencoba untuk menhadapinya.










Oleh karena itu, kita tak seharusnya bersikap egois
dengan tidak peduli dengan orang lain. Hal itu hanya akan memecah belah
persatuan umat. Umat Islam ini disatukan oleh aqidah mereka yang satu. Karena mereka
hanya menyembah Allah Yang Maha Esa dan mengikuti satu Nabi, yaitu Nabi
Muhammad SAW. Maka jika ada yang tidak sesuai dengan ajaran yang diturunkan
oleh Allah dalam Al-Qur’an dan tidak sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW, hal
itu harus segera diluruskan. Jalannya tak lain adalah dengan saling menasihati
dalam kebaikan.



