Pages

Subscribe:

Flickr Images

Rabu, 20 September 2017

Someone Asked Me About Marriage

“Va, seandainya ada ikhwan yang datang nglamar kamu, dia ikhwan biasa bukan ikhwan berlatar pendidikan agama yang kuat. Tapi dia punya andil besar dalam menggerakkan umat Islam. Apa kamu mau nerima dia.?” Katanya. Ku pikir masalah pertanyaan ini ada kaitannya dengan masalah yang dihadapinya. Bisa jadi hal itu menimpanya, bisa jadi juga tidak.
Aku mencoba menjawab dengan pikiran dewasa saja. “Menerima lamaran itu bukankayak nerima rejeki nomplok. Ibarat aku ini bos yang mau nerima karyawan, aku harus selektif dan tentunya ada sesi interview. Habis itu juga nggak langsung diterima aja kan pekerja itu? Masih ada seleksi lewat rapat direksi. Jadi kalua masalahnya kayak gitu aku harus minta pertimbangan ke orang tuaku, kakak-kakakku, dan orang-orang yang lebih mengerti masalah ini dan lebih mengerti keadaanku. Tapi juga harus dibarengi dengan istikhoroh dulu”
Jawabanku yang sudah panjang kali lebar itu masih juga ditanggapinya dengan dalam. Seperti banyak orang bilang kalua cwek itu bapernya nggak ketulungan. Semua dipikirnya pake’ perasaan (kecuali aku, hehe).
“Terus kalau mereka bilang ‘nggak’, kamu juga akan ngambil keputusan itu, walaupun kamu sebenarnya juga suka sama laki-laki itu.?”
Rasa suka? Apa rasa suka itu tanda serratus persen kalau dia jodoh kita? Kayaknya nggak deh. “Eh aku bilangin ya nggak samua rasa suka itu nunjukkin kalau orang yang dating ke kita itu adalah jodoh kita. Ada orang yang awal nikahnya nggak suka, tapi Allah bilang kalau itu sebenarnya jodohnya.” Jawaban dari jodoh itu adalah kemantapan hati setelah kita berusaha mengistikhorohi semuanya walaupun sebenarnya kita nggak suka.
Tapi emang dasar cewek, perasaannya selalu lebih maju disbanding otaknya. Kadang aku menyangsikan hal ini dari diriku walaupun sebenarnya aku juga cewek. Sesulit apa sih hidup ini , sampai-sampai akal sehat udah nggak bisa kepakai lagi.
Katanya, “kamu tetap mau nolak dia, dan tega nyakitin perasaannya? Padahal dia adalah orang yang selama ini memperjuangkanmu.”
Maka ku katakan kepadanya, “Kalau emang harus gitu, ya aku bakal nglakuin itu.” Ada suatu pertanyaan dalam benakku. Apakah seorang laki-laki dewasa masih akan bersikap kekanak-kanakan padahal dia sudah memilih jalan hidupnya untuk ingin segera melangsungkan pernikahan? Aku pikir hal itu tak menyakitinya selama dia mau berpikir bahwa aku mungkin belum jodohnya. Aku tidak mengerti bagaimana cara lak-laki mengatasi masalahnya yang menuntut dirinya untuk bersikap dewasa. Karena laki-laki cenderung lebih mengedepankan otaknya dan tak banyak bicara seperti kebanyakan wanita.

Jadi intinya, aku ingin mengatakan kepada seluruh wanita. Bolehlah kita menjadi makhluk yang peka perasaannya. Tapi muslimah itu dituntut untuk tangguh. Tangguh bukan berarti tak boleh menangis, karena menangis adalah hal yang manusiawi. Usaplah tangis itu sesaat setelah semuanya selesai. Yakinlah masalah itu pasti ada solusinya. Karena tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan, kecuali kalau kita mengkerdilakan pikiran dan hati kita sebelum mencoba untuk menhadapinya.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Sesuap Nasi Atau Seteguk Ilmu

Menempuh pendidikan ala ulama memang tidak mudah. Terlebih dengan zaman yang semakin mendekat ke garis finis. Kita pun bukan tidak tahu bagaimana penggambaran Rasulullah SAW tentang akhir zaman itu sendiri. Justru karena kita tahu betapa mengerikannya suasana yang mencekam sebelum datangnya hari yang dijanjikan. Hari apalagi kalua bukan hari kiamat? Hari yang pastinya semua orang takut menghadapinya. Jadilah semua orang sibuk dengan persiapan mereka menghadapi hari itu. Tapi ada yang betul-betul menyadarinya, namun ada juga yang pura-pura amnesia. Semua itu tergantung apa yang direngguknya selama ini. apakah hanya suapan demi suapan nasi saja. Ataukah mereka merengguk kesegaran dan kenikmatan ilmu.?

HAKIKAT ILMU                                          
Ilmu telah menjadi barang berharga di akhir masa aktif kehidupan ini. Tanpa ilmu seorang seperti berjalan di kegelapan malam tanpa penerangan dan tak tahu arah jalan pulang. Tetapi ilmu bukan hanya sekedar dengan meneguknya di telaga buku. Atau menduduki banyak tingkat bangku sekolah. Ilmu adalah kepada siapa kita menginduk seharusnya. Apakah kepadada mereka yang berjalan menuju jurang neraka? Taukah mereka yang berjalan ke bukit surga?
Bicara ilmu, Islam telah memiliki induk sendiri untuk diikuti. Induk mereka adalah para ulama yang telah merumuskan segala teori agar umat Islam bisa lebih memahami Islam secara holistic. Maka, itulah ilmu yang seharusnya kita raih.

ULAMA DAN WAKTUNYA
Meneguk ilmu dari para ulama bukanlah tanpa halangan dan godaan. Bahkan godaan itu bisa berbagai macam. Seperti yang aku alami saat ini. karena aku menempuh pendidikan ala ulama, aku pun dituntut untuk mengikuti kehidupan ulama sejak bangun tidur hingga beranjak tidur kembali. Menejemen waktu sangat dibutuhkan di sini. Kalau ada seorang yang kuliah jurusan menejemen waktu, mungkin akan sangat berguna di tempatku sekarang ini. Sayangnya hal semacam itu tidak ada walaupun tidak mustahil untuk diwujudkan.
Menejemen waktu yang ulama pakai bukanlah menejemen waktu yang biasa-biasa saja. Menejemen waktu mereka sangat dahsyat. Tidak semua orang mampu mengikutinya. Bahkan diriku pun belum mampu. Seorang ulama sangking besarnya kecintaannya terhadap ilmu dan ibadah kepada Allah SWT, mereka tak pernah melewatkan sedikit waktunya hanya untuk sekedar berbincang-bincang ringan dengan orang lain. Bahkan untuk sesuap nasi pun mereka sering melupakannya. Dan hal itu mereka lakukan tanpa sadar.
Berbeda dengan aku dan kawan-kawanku yang berusaha meniru mereka dalam setiap halnya. Kami berusaha tidak melewatkan sedikit pun waktu kami tanpa beribadah, membaca, mentelaah kitab, menulis, berdiskusi, dan lainnya. Tapi ternyata dunia yang fana ini tetap tak berhenti menggoda. Ada saja yang bisa mengalihkan perhatian dari melakukan hal-hal tadi. Membuat kami kadang bingung memilih antara sesuap nasi untuk perut atau seteguk ilmu untuk gizi hati dan otak kami.

Satu kata yang menjadi perbedaan antara kami dan para ulama yang berhasil merengguk berlitr-liter ilmu. Yaitu ‘Ikhlas’. Keikhlasan kami belum semurni para ulama itu. Karena itulah satiap godaan selalu berhasil menggoda kami. Hasilnya kami tak sempurna mempelajari apa yang seharusnya kami pelajari. Juga tidak sempurna dalam mempersiapkan pahala sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat. Koreksi ini semoga menjadi penyemangat bagi diriku dan kita semua untuk melakukan yang lebih, agar kita mendapat sesuatu yang lebih pula dari Allah SWT. Itulah surga-Nya. 

Kamis, 17 Agustus 2017

ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI: MUHASABAH KAUM MUSLIMIN


Bulan agustus identik dengan bulan nasional negeri yang pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang ini. mengapa demikian? Karena sejak awal bulan hingga menjelang akhir bulan banyak hari-hari penting yang diperingati oleh bangsa Indonesia. Tentunya hari yang terpenting di antara hari-hari tersebut adalah hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ya, hari bersejarah itu terjadi tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu saat Ir. Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kejadian hari itu terang-terangan menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka. Meredeka dari kungkungan para penjajah. Kemerdekaan itu diraih oleh Indonesia bukan dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Namun kemerdekaan itu diraih dengan peluh perjuangan disertai luka bahkan darah yang tertumpah dan jiwa yang harus terkorbankan. Oleh karena itu, setiap tahun pada tanggal 17 Agustus umat Indonesia memperingati hari kemerdekaannya dan mengenang jasa pahlawannya.
72 tahun sudah bangsa Indonesia merasakan kemerdekaannya. Memperingatinya setiap tahun dengan suka cita dan meriah. Segala jenis perlombaan tak pernah absen untuk memeriahkannya, baik di kancah RT sampai dalam instansi pemerintahan. Hari itu menjadi libur nasional yang menghentikan beberapa aktifitas pekerjaan rutin para pekerja yang banyak menguras tenaga, sekaligus melepas penat. Itu bagi mereka yang bekerja dan berpenghasilan. Tapi bagaimana dengan para pengangguran yang luntang-luntung tak mendapat tampungan untuk bekerja dari pemerintah hari ini? siapa yang perlu dikoreksi kebijakannya dalam masalah ini? ini baru satu masalah yang melilit negeri ini.
Para penegak hukum asyik dengan hartanya yang didapat dari hasil nggarong uang rakyatnya. Begitu juga dengan para penguasa yang leha-leha duduk di kursi goyangnya di bawah atap dengan lampu gemerlap dan hembusan AC yang menyejukkan. Bahkan mereka tak sedetik pun berpikir tentang rakyatnya yang hidup miskin di bawah kolong jembatan tanpa gemerlap lampu dengan pendingin ruangan yang hanya hembusan angin yang terkadang berubah sewaktu-waktu, bisa panas bisa juga dingin.
Alangkah lucunya negeri ini, mengaku merdeka tapi masih belum bisa memerdekakan rakyatnya dari jerat kemiskinan dan krisis moral. Bagaimana tidak, angka kriminalitas yang setiap tahun melonjak, bahkan tak pernah mau turun, sudah cukup mengamini moral bangsa Indonesia yang amburadul. Meskipun hal itu tak bisa dipukul rata, namun demi keadilan permasalahan itu bisa dipastikan menjangkiti setiap elemen bangsa Indonesia. Berarti pemerintahnya juga begitu dong? Ya, bisa dikatakan seperti itu.
Alangkah lucunya negeri ini yang mengaku bersistem DEMOKRASI namun tidak menerima tindakan atau sikap yang sudah jelas berasaskan demokrasi. Menghalang-halangi orang ikut demo, baik dengan cara yang bijak dan santun bahkan dengan cara yang tak sepantasnya dilakukan guna menggagalkan aksi demo. Bukankah demo dan menyaurakan aspirasi itu adalah bagian dari demokrasi? Lalu apa salahnya? Apakah tindakan menghalang-halangi aksi demo itu sikap berdemokrasi yang seharusnya? Saya rasa tidak. Bahkan jika menghalanginya dengan cara anarkis, bukankah itu tindakan kriminal dan harus dijerat dengan jeratan hukum yang sudah disepakati bangsa ini?
Alangkah lucunya negri ini, yang katanya mengangkat martabat kebinekaan tapi menghalangi orang yang beragama melakukan aktifitas keagamaannya. Seperti yang banyak terjadi. Bagaimana bisa majlis dzikir yang hendak diadakan dilarang-larang, malah konser artis luar negri malah diizinkan? Jika dilihat dari keduanya, manakah yang lebih merusak moral anak bangsa? Pasti jelas yang kedua. Sudah terlalu banyak bukti anak bangsa ini menjadi budak zaman dengan meninggalkan sikap akhlaq yang mulia juga kekuatan aqidah mereka.
Ada yang lebih lucu lagi, sudah jelas bahwa mayoritas adalah muslim. Tapi kenapa hari ini ada jargon ‘untuk kualitas puasa yang super hormati orang yang tidak berpuasa’. Baru kali ini sejak muslim Indonesia zaman dahulu melaksanakan ibadah puasa, ada yang memprotes agar menghormati mereka yang tidak berpuasa. Kalua begitu, nantinya juga aka nada jargon baru ‘untuk kualitas berkendara yang super, hormati orang yang tidak memakai helm’.
Jargon kebinekaan itu lebih ternoda lagi saat sebuah symbol agama dan ideology yang seharusnya bebas dilaksanakan oleh warga negara, dikecam dan diperlakukan tidak adil dan semena-mena. Betapa banyak muslimah berjilbab dan bercadar dikecam dan diteriaki di tempat umum hanya karena mereka melaksanakan perintah agamanya.

Pada akhirnya objek kebencian yang sesungguhnya di negri ini adalah justru mereka sebagai kaum mayoritas. Tertindas, terinjak-injak harkat dan martabatnya. Bahkan hendak dihancurkan cepat atau lambat. Para kelompok lain yang memusuhi dan membenci mereka bersatu padu hendak menghempaskan mereka ke dalam jurang kehinaan dan akhirnya musnah. Dan tersisalah kekuatan tirani yang congkak dan menindas rakyatnya sendiri, yang haus akan harta dan tahta bahka darah umat ini. Sudah terlampau banyak diskriminasi yang umat Islam di Indonesia ini hadapi dengan penuh kesabaran. Namun bukanlah hanya sabar yang dibutuhkan. Tapi kebangkitan dari tidur panjang yang melenakan. Agama yang terinjak ini harus bangkit kembali dan melawan. Bukan untuk Allah SWT sebenarnya, bahkan Allah pun tak butuh itu, karena Ia sudah cukup dengan segala-galanya. Tapi semua akan kembali kepada masing-masing. Mereka yang mau menolong agama ini, maka mereka pun akan mendapat pertolongan di saat yang paling dibutuhkan akan sebuah pertolongan. Kenapa umat ini tak percaya akan hal itu?

Minggu, 06 Agustus 2017

Iman: Jaga Lisan, Jaga kelakuan


Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dengan rupa yang paling sempurna. Tapi sayangnya terkadang manusia sendiri yang lupa untuk mensyukurinya. Bahkan hal yang paling sepele sekalipun.

Kawan, pernahkan kalian berpikir tentang hidung mungil kita? Hidung yang setiap saat menghirup oksigen alam dengan tanpa biaya sepeser pun. Bagi yang sehat pernapasannya. Pernahkah juga memperhatikan ada apa di dalamnya? Ya, sesuatu yang halus namun bisa mengait kotoran-kotoran dari udara yang kita hirup. Hasilnya adalah tubuh kita terbebas dari kuman, virus, dan bakteri penyebab berbagai penyakit. Selain juga imun yang mendampinginya melawan benda-benda asing tadi. Mungkin itulah salah satu filter atau penyaring alami dalam tubuh kita.
Sebenarnya ada filter lain yang lebih tak kasat mata yang ada dalam diri kita. Tentunya karena kita hamba Allah SWT yang pasti mengimaninya, kita tentu memiliki alat penyaring ini. Apalagi kalau bukan iman? Bicara soal iman, banyak hal yang bisa ia saring agar jiwa-raga kita terbebas dari virus yang mengancam keselamatan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Nggak percaya? Check aja!
Semacam gerak reflek, orang yang beriman pasti akan tergerak jika statusnya disebut dalam Kalamullah atau hadits Nabi. Seperti hadits yang satu ini:
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka ucapkanlah ucapan yang baik atau diam.
Tak bisa dibayangkan jika seorang yang beriman tak memiliki filter ini. akan ada efek beruntun yang bisa terjadi, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Kita bisa memandangnya lewat kacamata realistis kita. Seorang yang banyak berkata buruk pasti akan dapat menyakiti lawan bicaranya. Efek selanjutnya adalah efek sosial, Yaitu pengucilan yang diterima dari orang lain kepada pribadi yang sukan bertutur kata buruk. bisa dikatakan hal seperti ini adalah awal permulaan fitnah yang bisa terjadi bahkan di antara sesame muslim. Ketika fitnah itu terjadi, pedang pun tak akan mampu berdiam diri dalam sarungnya. Ia pasti akan bermain bersama syaithan yang selalu membisiki pemilik pedang. Seperti kata salah seorang ulama dalam kitabnya:
رُبَّ كَلِمَةٍ أَشَدُّ مِنْ وَقَعَ السَّيْفُ أَيَّامَ الْفِتْنَةِ
“bisa jadi sebuah kalimat dapat lebih keras menebar fitnah dari pada sebilah pedang.”
Pembahasan ini menjadi begitu penting. Mengingat umat Islam ini sudah digadang-gadang akan bersatu padu melawan penjajah aqidah, namun masalah internal saja kita masih belum bisa mengatasinya. Meskipun sebenarnya hal ini merupakan masalah pembiasaan diri dan kepribadian masing-masing. Seseorang yang terbiasa bertutur kata baik, maka ia akan selamanya menjaga ucapannya agar tak menyakiti orang lain. Sebaliknya jika seseorang terbiasa berkata tanpa peduli orang lain tersakiti atau tidak, jika ia tidak memutuskan untuk berubah, maka selamanya ia akan berlaku seperti itu.
Sama halnya dengan menjaga lisan, menjaga perilaku merupakan hal yang sama-sama penting. Tak banyak bertutur kata, namun prilakunya lebih tajam dari pada pisau, tetap saja dapat menyakiti orang lain. Prilaku disini termasuk sikap. Seorang muslim dituntut untuk berbudi pekerti seperti tuntunan Rosulnya. Bagaimana bisa kita mencontoh perilaku beliau kalua kita saja tidak pernah bertemu beliau? Hal seperti ini tak perlu dirisaukan. Karena Al-Qur’an telah menjawabnya. Ya, karena Akhlaq atau perilaku Rosulullah SAW adalah Al-Qur’anul Kariim sebagaimana penuturan isteri beliau sendiri, Ibunda Aisyah R.a.
Oleh karena itu, kita tak seharusnya bersikap egois dengan tidak peduli dengan orang lain. Hal itu hanya akan memecah belah persatuan umat. Umat Islam ini disatukan oleh aqidah mereka yang satu. Karena mereka hanya menyembah Allah Yang Maha Esa dan mengikuti satu Nabi, yaitu Nabi Muhammad SAW. Maka jika ada yang tidak sesuai dengan ajaran yang diturunkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan tidak sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW, hal itu harus segera diluruskan. Jalannya tak lain adalah dengan saling menasihati dalam kebaikan.

Pada akhirnya seorang muslim adalah mereka yang selamat dari lisan dan tangan muslim yang lain. 

Rabu, 02 Agustus 2017

Jangan Menangis Karena Tumpahan Susu

Beberapa orang percaya bahwa sifat atau perilaku yang mereka telah diarahkan menuju hal tersebut, yang mana juga mereka mendapat pengakuan dari sifat itu, serta mampu meninggalkan kesan atau pengaruh tertentu tentang diri mereka pada pikiran orang lain tidak dapat dirubah. Mereka menyerah pada pikiran ini, hanya menjadi seseorang yang menyerah pada kenyataan yang tidak dapat dirubahnya, tingginya atau pun warna kulitnya.
Di sisi lain, seseorang yang cerdas berpikir bahwa untuk mengubah sifat asli seseorang mungkin lebih mudah dari pada mengganti pakaiannya. Sifat asli kita tidaklah seperti tumpahan susu yang tidak dapat dipungut atau diserok kembali. Agaknya, kita selalu dalam pengawasan akan hal itu dan ada banyak cara yang bisa kita tempuh untuk menuju hal tersebut, dan bahkan cara yang kita pikirkan!
Ibnu Hazm menyebutkan pada bukunya Tawq al-Hamamah sebuah kisah seorang pedagang terkenal dari negeri Andalusia. Ada sebuah kompetisi antara dia dan empat pedagang lainnya. Akibat dari pertarungan tersebut, mereka tidak menyukai Sang Pedagang Andalusia. Mereka berepat akhirnya memutuskan untuk membuatnya semakin buruk.
Di suatu pagi, dia meninggalkan rumahnya dan pergi ke tempat kerjanya, dia memakai baju putih dan juga sorban. Di jalan, ia berpapasan dengan salah satu dari keempat pedagang yang membencinya. Ia pun menyalami pedagang Andalusia tersebut, kemudian memperhatikan sorbannya dan berkata, “Bagus sekali sorban kuning ini!”
Pedagang Andalusia pun berkata, “Apa kamu buta? Sorban ini warnanya putih!”
Dia menjawab, “Bukan, itu kuning, itu kuning, tapi itu kelihatan bagus.”
Pedagang Andalusia pun meninggalkannya dan melanjutkan perjalanannya sampai dia bertemu dengan pedagang kedua dan mereka. Dia memberi salam kepadanya, kemudian memandang sorbannya dan berkata, “Kamu kelihatan ganteng hari ini! Bajumu bagus sekali! Apalagi sorban hijau ini!”
Pedagang Andalusia itu pun berkata, “Sebenarnya, surban ini putih.”
“tidak, itu warna hijau,” dia menyangkal.
Dia menjawab, “Ini putih! Pergi sana!”
Pedagang Andalusia itu pun berjalan lagi sembari berbicara dengan dirinya sendiri, dan sejak sekarang hingga selanjutnya, ia tidak berhenti melihat warna sorbannya untuk memastikan bahwa warnanya betul-betul putih. Dia pun akhirnya sampai di tokonya dan kemudian membuka kuncinya. Sementara itu, seseorang yang datang kepadanya yang ternyata adalah yang ketiga dari empat orang pedagang tadi. Ia berkata, “Betapa cantiknya pagi ini! Terutama bajumu, terlihat bagus! Juga sorban birumu yang bagus itu menambah ketampananmu!”
Si pedagang Andalusia pun melihat kembali sorbannya untuk memastikan warnanya, lalu dia mengucek matanya dan berkata, “Wahai saudaraku! Sorbanku itu warna putih!”
“Bukan, ini warna biru. Tapi yang terpenting adalah ia nampak bagus, jadi jangan khawatir!” pedagang itu menjawab, lantas kemudian pergi meninggalkannya tepat setelah Si Pedagang Andalusia itu berteriak, “SORBAN INI WARNANYA PUTIH!” sembari dia melihat sorbanya lagi untuk memastikan warnanya.
Dia duduk di dalam tokonya selama beberapa waktu dan pandangannya tak dapat lepas dari sorbannya. Sementara itu, orang yang keempat datang dan berkata, “Assalamua’alaikum! MashaAllah! Dari mana kamu membeli soban merah ini?”
Si Pedagang Andalusia itu pun berteriak, “SORBANKU WARNA BIRU!”
Dia menjawab, “Bukan! Ini merah.”
Si Pedagang Andalusia berkata lagi, “Bukan! Ini hijau! Sebenarnya, bukan! Ini putih! Bukan! Ini biru, atau hitam!” ia pun kemudian tertawa keras, lalu berteriak, dan kemudian mulai menangis dan melompat-lompat.
Ibnu Hazm berkata, ‘Setelah itu, aku akan melihatnya di jalanan kota Andalusia. Dia berubah jadi gila dan anak-anak melemparinya dengan batu.’
Jika keempat orang tadi, dengan menggunakan kemampuan mereka mampu mengubah tak hanya sifat alami seseorang tapi juga pikirannya, lalu bagaimana dengan kemampuan yang telah di uji coba yang didukung oleh wahyu yang mana seseorang dapat mengamalkannya agar lebih dekat kepada Allah?
Amalkanlah apa pun kemampuan baik yang kamu jumpai dan kamu akan bahagia. (karena bahagia itu sederhana).
Jika kamu katakana padaku, “Aku tak mampu.”
Aku akan mengatakan padamu, “Setidaknya cobalah!”
Jika kamu katakan padaku, “Aku tidak tahu bagaimana?”
Aku akan katakan, “Ya, kamu tahu.”
Nabi SAW bersabda, “Pengetahuan hanya didapat melalui belajar, dan ampunan hanya bisa didapat melalui istighfar.”
Fokus utama pembahasan…
Pahlawan adalah seseorang yang pergi melampaui bakatnya untuk meningkatkan kemampuannya, sampai dia mampu untuk berubah jadi lebih baik, dan bahkan mungkin sampai mengubah kemampuan orang-orang.

Taken from: Enjoy Your Life – Dr. Muhammad ‘Adb Ar-Rahman Al-‘Arifi

Kamis, 15 Juni 2017

Tangisan Rosulullah SAW mengguncang 'Arsy-Nya


Inilah kisah yang dapat menyentuh hati bagi siapa saja yang merenunginya. Dapat juga mengalirkan buliran bening dari sudut mata. Membasahi tanah planet ini yang oleh Sang Pencipta diwariskan kepada sang Khalifah, yaitu manusia. Namun, betapa sombongnya makhluk yang diberi gelar sebagai Ahsani Taqwiim. Mereka banyak mengingkari segala kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Maka tak heran banyak malapetaka yang akhirnya mereka hadapi dikarenakan perbuatan mereka.
 Di suatu hari Rosulullah SAW sedang khusyuk melakukan thawaf di Ka'bah. DI tengah kekhusyukannya beliau mendengar seseorang di dekatnya berthawaf sambil berdzikir: "Ya Kariim! Ya Kariim!". Rosulullah SAW pun menirukannya dan membaca "Ya Kariim! Ya Kariim!". Kemudian tak berapa lama orang itu pun berhenti di salah satu sudut Ka'bah dan berdzikir lagi: "Ya Kariim! Ya Kariim!". Rosulullah SAW yang berada di belakangnya pun mengikuti kembali dzikir orang tersebut, "Ya Kariim! Ya Kariim!". Merasa seperti diolok-olok, orang itu pun menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki yang gagah dan tampan yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Oran itu lalu berkata: "Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja mengolok-olokku, karena aku seorang Arab Badui? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan kulaporkan kepada kekasihk, Muhammad Rosulullah."
Mendengar perkataan orang badui itu, Rosulullah SAW tersenyum, lalu bertanya: "Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang arab?" "Belum." Jawabnya. "Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?" Tanya Rosulullah SAW lagi.
"Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya. dan membenarkannya sebagai utusan Allah sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya." Kata Orang Arab Badui itu dengan yakin.
Rosulullah SAW pun berkata kepadanya: "Wahai Orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!" Mendengar ucapan Rosulullah SAW itu , dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.
"Tuan ini Nabi Muhammad?!" Tanyanya. "Ya." Jawab Nabi SAW. Segera orang arab badui itu tersungkur tunduk untuk mencium kaki Rosulullah SAW. Melihat hal itu, beliau pun langsung menarik tubuh orang arab badui itu, seraya berkata kepadanya:
"Wahai orang Arab! Janganlah kau bertindak seperti itu! perbuatan seperti itu biasanya hanya dilakuka oleh seorang hamba sahaya kepad tuannya. Ketahuilah! Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta untuk dihormati atau diagungkan, akan tetapi aku diutus untuk membawa berita."
Oleh karena itu, malaikat Jibril a.s pun turun membawa berita dari langit. Ia berkata: "Ya Muhammad, Rabb As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan berfirman: 'Katakanlah kepada orang Arab itu, agar ia tidak terpesona dengan kenikmatan yang Allah berikan. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari kiamat kelak, dan akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar'." Setelah menyamaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka oran Arab itu pun berkata:
"Demi keagungan serta kemulian Allah, jika Engkau akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan terhadap Enkau!" Kata Orang Arab Badui itu. Lalu Rosulullah SAW bertanya kepadanya: "Apakah yang akan kau perhitungkan tehadap Allah?". Ia menjawab: "Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa besar ampunannya. Dan jika Dia menghitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luas ampunannya itu. Dan jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa besar kedermawanannya.!"
Mendengar ucapan orang Arab Badui itu, maka Rosulullah SAW menangis dikarenakan betapa benarnya perkataan orang Arab Badui itu. Air mata beliau pun mengalir membasahi janggutnya. Lantaran hal itu malaikat Jibril pun turun kembali dan berkata:
"Ya Muhammad! Rabb As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: 'Berhentilah menangis! Sesungguhnya karena tangismu, para malaikat penjaga 'Arsy lupa akan bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga 'Arsy-Nya pun bergoncang. Katakanlah kepada temanmu itu bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di Surga kelak!'." Mendengar berita itu, Orang Arab Badui itu sangat bahagia, lalu menagis karena tak kuasa menahan keharuan dirinya.

Rabu, 07 Juni 2017

Isislah Titik Di Bawah Ini!

x


Tanpa kita sadari, kita telah memulai titik kehidupan ini. bermula dari sebuah noktah darah yang tersemai di rahim ibunda. Titik atau noktah itu kemudian berkembang menjadi banyak titik, sampai terbentuklah semua organ tubuh manusia dengan sempurna sebagaimana yang Rabbnya firmankan. Setelah itu dengan izin Rabbul 'Alamiin pula makhluk yang telah melewati proses penciptaan yang panjang, akhirnya keluar dari perut sang bunda dengan perjuangan sang bunda yang susah payah dan berpeluh-peluh. Itulah bayi mungil yang bersih suci tanpa titik-titik dosa atau pun noda.
Bingung dengan titik-titik? Well let's play!
Pasti percaya kan dengan suratan taqdir? Pastilah.. karena seorang muslim dan mukmin imannya tidak akan sempurna jika titik kehidupannya tidak diisi dengan ruh keimanan kepada apa yang digariskan oleh Allah SWT dalam Lauhul Mahfidz-Nya.
Lagi-lagi titik. Ya, memang kehidupan kita dipenuhi dengan titik-titik yang perlu kita isi degan benar. Titik-titik tersebut merupakan ujian. Seperti saat kita menjalani ujian ketika kita hendak naik kelas. Seseorang tidak akan bisa lulus ujian kecuali dengan mengisi titik-titik tersebut dengan benar. Dan kebenaran itu tidak mungkin bisa kita dapatkan dengan instan. Belajar, itulah hal yang diperlukan seseorang sebelum menjalankan ujian. Yaitu mencari ilmu sebagai bekal dalam menjalani kehidupan ini. Maka, tak ada petunjuk hidup yang lebih baik, yang di dalamnya terdapat banyak sekali pengetahuan sebagai tanda Keangungan Sang Maha Pencipta.
Jika titik-titik yang dimaksud di atas adalah kita diminta untuk mengisi dengan baik dan benar, namun di antara yang berhasil, pasti ada yang gagal dalam menjalaninya. Mereka yang gagal mayoritas mengisi titik-titik kehidupannya dengan hal-hal yang buruk. Sekilas hidup mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan keindahan. Tapi seseungguhnya hati mereka penuh degan titik-titik hitam. Jika titik-titik hitam itu sudah terlampau banyak, maka hatinya pun sudah tidak dapat lagi disebut dengan hati. Seperti sabda Rosul-Nya:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”
Dari Hadits di atas, maka Taubat merupakan obat yang paling mujarab untuk membersihkan titik-titik hitam tersebut.
Semoga dalam hidup ini kita diijauhkan dari perbuatan yang dapat membuat hitam hati kita sehingga akhirat kita pun menjauh dari kita.

Sabtu, 27 Mei 2017

Lembaran Baru

Inilah lembaran baru dalam hidupku. Yang tak akan lama lagi kan kubuka bersama dengan terbukanya Bulan yang Mulia, Ramadhan Kariim. Lembaran baru ini mungkin akan sedikit memiliki banyak warna dari lembaran-lembaran sebelumnya. Seperti dunia ini yang Allah ciptakan dengan berjuta-juta warna. Ada warna yan sedap dipandang mata, ada pula yang terlalu suram hingga manusia berpaling dari memandangnya. Tetapi terkadang manusia banyak salah dalam memaknai setiap ciptaan Allah. Seperti Syari'atnya yang berupa-rupa. Hakikatnya bukan untuk menyulitkan manusia. Akan tetapi semuanya adalah demi kemaslahatan mereka dan menjaga eksistensi mereka sebagai hamba Allah SWT. Jika manusia tersebut sadar untuk menjalankannya, maka Allah tidak buta dari amalan mereka. Melainkan Allah akan membalasnya dengan balasan yang seimbang dengan amalan tersebut.
Perkenalkan! Nama saya Eva Zulaikha. Saya suka memakai nama pena Ana Muwahheedaa. Karena yang saya pandang dari nama itu adalah maknanya bukan kerennya. Saya berharap untuk bisa menjadi ahli tauhid yang sesungguhnya. Karena hal itu akan menjadi sangat langka di zaman yang hendak menuju finalnya ini. Selain itu ahli tauhid itu juga bergabung dengan 'Thaifah Manshuroh'  yang selalu memegang kuat tali Allah dan syariat-syariaynya. Yang berjuang membela agama luhur ini. Serta berusaha membumi hanguskan kekafiran sampai ke akar-akarnya.
Sekilas deskripsi diri saya yang selalu mengharap do'a-do'a kebaikan bagi saya pribadi, keluarga saya, dan umat Islam seluruhnya.
عسى الله أن يجعلنا من الذين يستمع القول ويتبعون أحسنًا
salam
~Ahli Tauhid~