Pages

Subscribe:

Flickr Images

Sabtu, 26 Agustus 2017

Sesuap Nasi Atau Seteguk Ilmu

Menempuh pendidikan ala ulama memang tidak mudah. Terlebih dengan zaman yang semakin mendekat ke garis finis. Kita pun bukan tidak tahu bagaimana penggambaran Rasulullah SAW tentang akhir zaman itu sendiri. Justru karena kita tahu betapa mengerikannya suasana yang mencekam sebelum datangnya hari yang dijanjikan. Hari apalagi kalua bukan hari kiamat? Hari yang pastinya semua orang takut menghadapinya. Jadilah semua orang sibuk dengan persiapan mereka menghadapi hari itu. Tapi ada yang betul-betul menyadarinya, namun ada juga yang pura-pura amnesia. Semua itu tergantung apa yang direngguknya selama ini. apakah hanya suapan demi suapan nasi saja. Ataukah mereka merengguk kesegaran dan kenikmatan ilmu.?

HAKIKAT ILMU                                          
Ilmu telah menjadi barang berharga di akhir masa aktif kehidupan ini. Tanpa ilmu seorang seperti berjalan di kegelapan malam tanpa penerangan dan tak tahu arah jalan pulang. Tetapi ilmu bukan hanya sekedar dengan meneguknya di telaga buku. Atau menduduki banyak tingkat bangku sekolah. Ilmu adalah kepada siapa kita menginduk seharusnya. Apakah kepadada mereka yang berjalan menuju jurang neraka? Taukah mereka yang berjalan ke bukit surga?
Bicara ilmu, Islam telah memiliki induk sendiri untuk diikuti. Induk mereka adalah para ulama yang telah merumuskan segala teori agar umat Islam bisa lebih memahami Islam secara holistic. Maka, itulah ilmu yang seharusnya kita raih.

ULAMA DAN WAKTUNYA
Meneguk ilmu dari para ulama bukanlah tanpa halangan dan godaan. Bahkan godaan itu bisa berbagai macam. Seperti yang aku alami saat ini. karena aku menempuh pendidikan ala ulama, aku pun dituntut untuk mengikuti kehidupan ulama sejak bangun tidur hingga beranjak tidur kembali. Menejemen waktu sangat dibutuhkan di sini. Kalau ada seorang yang kuliah jurusan menejemen waktu, mungkin akan sangat berguna di tempatku sekarang ini. Sayangnya hal semacam itu tidak ada walaupun tidak mustahil untuk diwujudkan.
Menejemen waktu yang ulama pakai bukanlah menejemen waktu yang biasa-biasa saja. Menejemen waktu mereka sangat dahsyat. Tidak semua orang mampu mengikutinya. Bahkan diriku pun belum mampu. Seorang ulama sangking besarnya kecintaannya terhadap ilmu dan ibadah kepada Allah SWT, mereka tak pernah melewatkan sedikit waktunya hanya untuk sekedar berbincang-bincang ringan dengan orang lain. Bahkan untuk sesuap nasi pun mereka sering melupakannya. Dan hal itu mereka lakukan tanpa sadar.
Berbeda dengan aku dan kawan-kawanku yang berusaha meniru mereka dalam setiap halnya. Kami berusaha tidak melewatkan sedikit pun waktu kami tanpa beribadah, membaca, mentelaah kitab, menulis, berdiskusi, dan lainnya. Tapi ternyata dunia yang fana ini tetap tak berhenti menggoda. Ada saja yang bisa mengalihkan perhatian dari melakukan hal-hal tadi. Membuat kami kadang bingung memilih antara sesuap nasi untuk perut atau seteguk ilmu untuk gizi hati dan otak kami.

Satu kata yang menjadi perbedaan antara kami dan para ulama yang berhasil merengguk berlitr-liter ilmu. Yaitu ‘Ikhlas’. Keikhlasan kami belum semurni para ulama itu. Karena itulah satiap godaan selalu berhasil menggoda kami. Hasilnya kami tak sempurna mempelajari apa yang seharusnya kami pelajari. Juga tidak sempurna dalam mempersiapkan pahala sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat. Koreksi ini semoga menjadi penyemangat bagi diriku dan kita semua untuk melakukan yang lebih, agar kita mendapat sesuatu yang lebih pula dari Allah SWT. Itulah surga-Nya. 

0 komentar:

Posting Komentar