Menempuh pendidikan ala ulama memang tidak mudah. Terlebih dengan
zaman yang semakin mendekat ke garis finis. Kita pun bukan tidak tahu bagaimana
penggambaran Rasulullah SAW tentang akhir zaman itu sendiri. Justru karena kita
tahu betapa mengerikannya suasana yang mencekam sebelum datangnya hari yang
dijanjikan. Hari apalagi kalua bukan hari kiamat? Hari yang pastinya semua
orang takut menghadapinya. Jadilah semua orang sibuk dengan persiapan mereka
menghadapi hari itu. Tapi ada yang betul-betul menyadarinya, namun ada juga
yang pura-pura amnesia. Semua itu tergantung apa yang direngguknya selama ini.
apakah hanya suapan demi suapan nasi saja. Ataukah mereka merengguk kesegaran
dan kenikmatan ilmu.?
HAKIKAT ILMU
Ilmu telah menjadi barang berharga di akhir masa aktif kehidupan
ini. Tanpa ilmu seorang seperti berjalan di kegelapan malam tanpa penerangan
dan tak tahu arah jalan pulang. Tetapi ilmu bukan hanya sekedar dengan
meneguknya di telaga buku. Atau menduduki banyak tingkat bangku sekolah. Ilmu adalah
kepada siapa kita menginduk seharusnya. Apakah kepadada mereka yang berjalan
menuju jurang neraka? Taukah mereka yang berjalan ke bukit surga?
Bicara ilmu, Islam telah memiliki induk sendiri untuk diikuti. Induk
mereka adalah para ulama yang telah merumuskan segala teori agar umat Islam
bisa lebih memahami Islam secara holistic. Maka, itulah ilmu yang seharusnya
kita raih.
ULAMA DAN WAKTUNYA
Meneguk ilmu dari para ulama bukanlah tanpa halangan dan godaan. Bahkan
godaan itu bisa berbagai macam. Seperti yang aku alami saat ini. karena aku
menempuh pendidikan ala ulama, aku pun dituntut untuk mengikuti kehidupan ulama
sejak bangun tidur hingga beranjak tidur kembali. Menejemen waktu sangat
dibutuhkan di sini. Kalau ada seorang yang kuliah jurusan menejemen waktu,
mungkin akan sangat berguna di tempatku sekarang ini. Sayangnya hal semacam itu
tidak ada walaupun tidak mustahil untuk diwujudkan.
Menejemen waktu yang ulama pakai bukanlah menejemen waktu yang
biasa-biasa saja. Menejemen waktu mereka sangat dahsyat. Tidak semua orang
mampu mengikutinya. Bahkan diriku pun belum mampu. Seorang ulama sangking
besarnya kecintaannya terhadap ilmu dan ibadah kepada Allah SWT, mereka tak
pernah melewatkan sedikit waktunya hanya untuk sekedar berbincang-bincang
ringan dengan orang lain. Bahkan untuk sesuap nasi pun mereka sering
melupakannya. Dan hal itu mereka lakukan tanpa sadar.
Berbeda dengan aku dan kawan-kawanku yang berusaha meniru mereka
dalam setiap halnya. Kami berusaha tidak melewatkan sedikit pun waktu kami
tanpa beribadah, membaca, mentelaah kitab, menulis, berdiskusi, dan lainnya. Tapi
ternyata dunia yang fana ini tetap tak berhenti menggoda. Ada saja yang bisa
mengalihkan perhatian dari melakukan hal-hal tadi. Membuat kami kadang bingung
memilih antara sesuap nasi untuk perut atau seteguk ilmu untuk gizi hati dan
otak kami.
Satu kata yang menjadi perbedaan antara kami dan para ulama yang
berhasil merengguk berlitr-liter ilmu. Yaitu ‘Ikhlas’. Keikhlasan kami belum
semurni para ulama itu. Karena itulah satiap godaan selalu berhasil menggoda
kami. Hasilnya kami tak sempurna mempelajari apa yang seharusnya kami pelajari.
Juga tidak sempurna dalam mempersiapkan pahala sebanyak-banyaknya untuk bekal
di akhirat. Koreksi ini semoga menjadi penyemangat bagi diriku dan kita semua
untuk melakukan yang lebih, agar kita mendapat sesuatu yang lebih pula dari
Allah SWT. Itulah surga-Nya.





0 komentar:
Posting Komentar