Pages

Subscribe:

Flickr Images

Kamis, 17 Agustus 2017

ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI: MUHASABAH KAUM MUSLIMIN


Bulan agustus identik dengan bulan nasional negeri yang pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang ini. mengapa demikian? Karena sejak awal bulan hingga menjelang akhir bulan banyak hari-hari penting yang diperingati oleh bangsa Indonesia. Tentunya hari yang terpenting di antara hari-hari tersebut adalah hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ya, hari bersejarah itu terjadi tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu saat Ir. Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kejadian hari itu terang-terangan menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka. Meredeka dari kungkungan para penjajah. Kemerdekaan itu diraih oleh Indonesia bukan dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Namun kemerdekaan itu diraih dengan peluh perjuangan disertai luka bahkan darah yang tertumpah dan jiwa yang harus terkorbankan. Oleh karena itu, setiap tahun pada tanggal 17 Agustus umat Indonesia memperingati hari kemerdekaannya dan mengenang jasa pahlawannya.
72 tahun sudah bangsa Indonesia merasakan kemerdekaannya. Memperingatinya setiap tahun dengan suka cita dan meriah. Segala jenis perlombaan tak pernah absen untuk memeriahkannya, baik di kancah RT sampai dalam instansi pemerintahan. Hari itu menjadi libur nasional yang menghentikan beberapa aktifitas pekerjaan rutin para pekerja yang banyak menguras tenaga, sekaligus melepas penat. Itu bagi mereka yang bekerja dan berpenghasilan. Tapi bagaimana dengan para pengangguran yang luntang-luntung tak mendapat tampungan untuk bekerja dari pemerintah hari ini? siapa yang perlu dikoreksi kebijakannya dalam masalah ini? ini baru satu masalah yang melilit negeri ini.
Para penegak hukum asyik dengan hartanya yang didapat dari hasil nggarong uang rakyatnya. Begitu juga dengan para penguasa yang leha-leha duduk di kursi goyangnya di bawah atap dengan lampu gemerlap dan hembusan AC yang menyejukkan. Bahkan mereka tak sedetik pun berpikir tentang rakyatnya yang hidup miskin di bawah kolong jembatan tanpa gemerlap lampu dengan pendingin ruangan yang hanya hembusan angin yang terkadang berubah sewaktu-waktu, bisa panas bisa juga dingin.
Alangkah lucunya negeri ini, mengaku merdeka tapi masih belum bisa memerdekakan rakyatnya dari jerat kemiskinan dan krisis moral. Bagaimana tidak, angka kriminalitas yang setiap tahun melonjak, bahkan tak pernah mau turun, sudah cukup mengamini moral bangsa Indonesia yang amburadul. Meskipun hal itu tak bisa dipukul rata, namun demi keadilan permasalahan itu bisa dipastikan menjangkiti setiap elemen bangsa Indonesia. Berarti pemerintahnya juga begitu dong? Ya, bisa dikatakan seperti itu.
Alangkah lucunya negeri ini yang mengaku bersistem DEMOKRASI namun tidak menerima tindakan atau sikap yang sudah jelas berasaskan demokrasi. Menghalang-halangi orang ikut demo, baik dengan cara yang bijak dan santun bahkan dengan cara yang tak sepantasnya dilakukan guna menggagalkan aksi demo. Bukankah demo dan menyaurakan aspirasi itu adalah bagian dari demokrasi? Lalu apa salahnya? Apakah tindakan menghalang-halangi aksi demo itu sikap berdemokrasi yang seharusnya? Saya rasa tidak. Bahkan jika menghalanginya dengan cara anarkis, bukankah itu tindakan kriminal dan harus dijerat dengan jeratan hukum yang sudah disepakati bangsa ini?
Alangkah lucunya negri ini, yang katanya mengangkat martabat kebinekaan tapi menghalangi orang yang beragama melakukan aktifitas keagamaannya. Seperti yang banyak terjadi. Bagaimana bisa majlis dzikir yang hendak diadakan dilarang-larang, malah konser artis luar negri malah diizinkan? Jika dilihat dari keduanya, manakah yang lebih merusak moral anak bangsa? Pasti jelas yang kedua. Sudah terlalu banyak bukti anak bangsa ini menjadi budak zaman dengan meninggalkan sikap akhlaq yang mulia juga kekuatan aqidah mereka.
Ada yang lebih lucu lagi, sudah jelas bahwa mayoritas adalah muslim. Tapi kenapa hari ini ada jargon ‘untuk kualitas puasa yang super hormati orang yang tidak berpuasa’. Baru kali ini sejak muslim Indonesia zaman dahulu melaksanakan ibadah puasa, ada yang memprotes agar menghormati mereka yang tidak berpuasa. Kalua begitu, nantinya juga aka nada jargon baru ‘untuk kualitas berkendara yang super, hormati orang yang tidak memakai helm’.
Jargon kebinekaan itu lebih ternoda lagi saat sebuah symbol agama dan ideology yang seharusnya bebas dilaksanakan oleh warga negara, dikecam dan diperlakukan tidak adil dan semena-mena. Betapa banyak muslimah berjilbab dan bercadar dikecam dan diteriaki di tempat umum hanya karena mereka melaksanakan perintah agamanya.

Pada akhirnya objek kebencian yang sesungguhnya di negri ini adalah justru mereka sebagai kaum mayoritas. Tertindas, terinjak-injak harkat dan martabatnya. Bahkan hendak dihancurkan cepat atau lambat. Para kelompok lain yang memusuhi dan membenci mereka bersatu padu hendak menghempaskan mereka ke dalam jurang kehinaan dan akhirnya musnah. Dan tersisalah kekuatan tirani yang congkak dan menindas rakyatnya sendiri, yang haus akan harta dan tahta bahka darah umat ini. Sudah terlampau banyak diskriminasi yang umat Islam di Indonesia ini hadapi dengan penuh kesabaran. Namun bukanlah hanya sabar yang dibutuhkan. Tapi kebangkitan dari tidur panjang yang melenakan. Agama yang terinjak ini harus bangkit kembali dan melawan. Bukan untuk Allah SWT sebenarnya, bahkan Allah pun tak butuh itu, karena Ia sudah cukup dengan segala-galanya. Tapi semua akan kembali kepada masing-masing. Mereka yang mau menolong agama ini, maka mereka pun akan mendapat pertolongan di saat yang paling dibutuhkan akan sebuah pertolongan. Kenapa umat ini tak percaya akan hal itu?

0 komentar:

Posting Komentar