Bulan
agustus identik dengan bulan nasional negeri yang pernah dijajah oleh Belanda
dan Jepang ini. mengapa demikian? Karena sejak awal bulan hingga menjelang
akhir bulan banyak hari-hari penting yang diperingati oleh bangsa Indonesia.
Tentunya hari yang terpenting di antara hari-hari tersebut adalah hari
proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ya, hari bersejarah itu terjadi tepat pada
tanggal 17 Agustus 1945, yaitu saat Ir. Soekarno membacakan proklamasi
kemerdekaan Indonesia. Kejadian hari itu terang-terangan menyatakan bahwa
bangsa Indonesia telah merdeka. Meredeka dari kungkungan para penjajah.
Kemerdekaan itu diraih oleh Indonesia bukan dengan mudah seperti membalikkan
telapak tangan. Namun kemerdekaan itu diraih dengan peluh perjuangan disertai
luka bahkan darah yang tertumpah dan jiwa yang harus terkorbankan. Oleh karena
itu, setiap tahun pada tanggal 17 Agustus umat Indonesia memperingati hari
kemerdekaannya dan mengenang jasa pahlawannya.
72 tahun sudah bangsa Indonesia merasakan
kemerdekaannya. Memperingatinya setiap tahun dengan suka cita dan meriah.
Segala jenis perlombaan tak pernah absen untuk memeriahkannya, baik di kancah
RT sampai dalam instansi pemerintahan. Hari itu menjadi libur nasional yang
menghentikan beberapa aktifitas pekerjaan rutin para pekerja yang banyak menguras
tenaga, sekaligus melepas penat. Itu bagi mereka yang bekerja dan
berpenghasilan. Tapi bagaimana dengan para pengangguran yang luntang-luntung
tak mendapat tampungan untuk bekerja dari pemerintah hari ini? siapa yang perlu
dikoreksi kebijakannya dalam masalah ini? ini baru satu masalah yang melilit
negeri ini.
Alangkah lucunya negeri ini, mengaku
merdeka tapi masih belum bisa memerdekakan rakyatnya dari jerat kemiskinan dan
krisis moral. Bagaimana tidak, angka kriminalitas yang setiap tahun melonjak,
bahkan tak pernah mau turun, sudah cukup mengamini moral bangsa Indonesia yang
amburadul. Meskipun hal itu tak bisa dipukul rata, namun demi keadilan
permasalahan itu bisa dipastikan menjangkiti setiap elemen bangsa Indonesia.
Berarti pemerintahnya juga begitu dong? Ya, bisa dikatakan seperti itu.
Alangkah lucunya negri ini, yang katanya
mengangkat martabat kebinekaan tapi menghalangi orang yang beragama melakukan
aktifitas keagamaannya. Seperti yang banyak terjadi. Bagaimana bisa majlis
dzikir yang hendak diadakan dilarang-larang, malah konser artis luar negri
malah diizinkan? Jika dilihat dari keduanya, manakah yang lebih merusak moral
anak bangsa? Pasti jelas yang kedua. Sudah terlalu banyak bukti anak bangsa ini
menjadi budak zaman dengan meninggalkan sikap akhlaq yang mulia juga kekuatan
aqidah mereka.
Jargon kebinekaan itu lebih ternoda lagi
saat sebuah symbol agama dan ideology yang seharusnya bebas dilaksanakan oleh
warga negara, dikecam dan diperlakukan tidak adil dan semena-mena. Betapa banyak
muslimah berjilbab dan bercadar dikecam dan diteriaki di tempat umum hanya
karena mereka melaksanakan perintah agamanya.
Pada akhirnya objek kebencian yang
sesungguhnya di negri ini adalah justru mereka sebagai kaum mayoritas. Tertindas,
terinjak-injak harkat dan martabatnya. Bahkan hendak dihancurkan cepat atau
lambat. Para kelompok lain yang memusuhi dan membenci mereka bersatu padu
hendak menghempaskan mereka ke dalam jurang kehinaan dan akhirnya musnah. Dan tersisalah
kekuatan tirani yang congkak dan menindas rakyatnya sendiri, yang haus akan
harta dan tahta bahka darah umat ini. Sudah terlampau banyak diskriminasi yang
umat Islam di Indonesia ini hadapi dengan penuh kesabaran. Namun bukanlah hanya
sabar yang dibutuhkan. Tapi kebangkitan dari tidur panjang yang melenakan. Agama
yang terinjak ini harus bangkit kembali dan melawan. Bukan untuk Allah SWT
sebenarnya, bahkan Allah pun tak butuh itu, karena Ia sudah cukup dengan
segala-galanya. Tapi semua akan kembali kepada masing-masing. Mereka yang
mau menolong agama ini, maka mereka pun akan mendapat pertolongan di saat yang
paling dibutuhkan akan sebuah pertolongan. Kenapa umat ini tak percaya akan
hal itu?








0 komentar:
Posting Komentar