Pages

Subscribe:

Flickr Images

Minggu, 06 Agustus 2017

Iman: Jaga Lisan, Jaga kelakuan


Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dengan rupa yang paling sempurna. Tapi sayangnya terkadang manusia sendiri yang lupa untuk mensyukurinya. Bahkan hal yang paling sepele sekalipun.

Kawan, pernahkan kalian berpikir tentang hidung mungil kita? Hidung yang setiap saat menghirup oksigen alam dengan tanpa biaya sepeser pun. Bagi yang sehat pernapasannya. Pernahkah juga memperhatikan ada apa di dalamnya? Ya, sesuatu yang halus namun bisa mengait kotoran-kotoran dari udara yang kita hirup. Hasilnya adalah tubuh kita terbebas dari kuman, virus, dan bakteri penyebab berbagai penyakit. Selain juga imun yang mendampinginya melawan benda-benda asing tadi. Mungkin itulah salah satu filter atau penyaring alami dalam tubuh kita.
Sebenarnya ada filter lain yang lebih tak kasat mata yang ada dalam diri kita. Tentunya karena kita hamba Allah SWT yang pasti mengimaninya, kita tentu memiliki alat penyaring ini. Apalagi kalau bukan iman? Bicara soal iman, banyak hal yang bisa ia saring agar jiwa-raga kita terbebas dari virus yang mengancam keselamatan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Nggak percaya? Check aja!
Semacam gerak reflek, orang yang beriman pasti akan tergerak jika statusnya disebut dalam Kalamullah atau hadits Nabi. Seperti hadits yang satu ini:
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka ucapkanlah ucapan yang baik atau diam.
Tak bisa dibayangkan jika seorang yang beriman tak memiliki filter ini. akan ada efek beruntun yang bisa terjadi, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Kita bisa memandangnya lewat kacamata realistis kita. Seorang yang banyak berkata buruk pasti akan dapat menyakiti lawan bicaranya. Efek selanjutnya adalah efek sosial, Yaitu pengucilan yang diterima dari orang lain kepada pribadi yang sukan bertutur kata buruk. bisa dikatakan hal seperti ini adalah awal permulaan fitnah yang bisa terjadi bahkan di antara sesame muslim. Ketika fitnah itu terjadi, pedang pun tak akan mampu berdiam diri dalam sarungnya. Ia pasti akan bermain bersama syaithan yang selalu membisiki pemilik pedang. Seperti kata salah seorang ulama dalam kitabnya:
رُبَّ كَلِمَةٍ أَشَدُّ مِنْ وَقَعَ السَّيْفُ أَيَّامَ الْفِتْنَةِ
“bisa jadi sebuah kalimat dapat lebih keras menebar fitnah dari pada sebilah pedang.”
Pembahasan ini menjadi begitu penting. Mengingat umat Islam ini sudah digadang-gadang akan bersatu padu melawan penjajah aqidah, namun masalah internal saja kita masih belum bisa mengatasinya. Meskipun sebenarnya hal ini merupakan masalah pembiasaan diri dan kepribadian masing-masing. Seseorang yang terbiasa bertutur kata baik, maka ia akan selamanya menjaga ucapannya agar tak menyakiti orang lain. Sebaliknya jika seseorang terbiasa berkata tanpa peduli orang lain tersakiti atau tidak, jika ia tidak memutuskan untuk berubah, maka selamanya ia akan berlaku seperti itu.
Sama halnya dengan menjaga lisan, menjaga perilaku merupakan hal yang sama-sama penting. Tak banyak bertutur kata, namun prilakunya lebih tajam dari pada pisau, tetap saja dapat menyakiti orang lain. Prilaku disini termasuk sikap. Seorang muslim dituntut untuk berbudi pekerti seperti tuntunan Rosulnya. Bagaimana bisa kita mencontoh perilaku beliau kalua kita saja tidak pernah bertemu beliau? Hal seperti ini tak perlu dirisaukan. Karena Al-Qur’an telah menjawabnya. Ya, karena Akhlaq atau perilaku Rosulullah SAW adalah Al-Qur’anul Kariim sebagaimana penuturan isteri beliau sendiri, Ibunda Aisyah R.a.
Oleh karena itu, kita tak seharusnya bersikap egois dengan tidak peduli dengan orang lain. Hal itu hanya akan memecah belah persatuan umat. Umat Islam ini disatukan oleh aqidah mereka yang satu. Karena mereka hanya menyembah Allah Yang Maha Esa dan mengikuti satu Nabi, yaitu Nabi Muhammad SAW. Maka jika ada yang tidak sesuai dengan ajaran yang diturunkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan tidak sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW, hal itu harus segera diluruskan. Jalannya tak lain adalah dengan saling menasihati dalam kebaikan.

Pada akhirnya seorang muslim adalah mereka yang selamat dari lisan dan tangan muslim yang lain. 

0 komentar:

Posting Komentar